Bagi penggemar atau kolektor keris, nama Banyu Sumurup tak lagi asing
terdengar di kuping mereka. Desa yang berada di wilayah Imogiri atau
sekitar 500 meter arah tenggara makam-makam raja Mataram ini dikenal
sebagai desa pembuat keris, baik itu keris pusaka ataupun hanya keris
souvenir.
Ketenaran empu atau pengrajin keris yang berasal dari desa Banyu Sumurup
ini tak hanya dikenal di Indonesia saja, tetapi juga telah tersebar di
negera Brunei Darussalam saja, tetapi juga Belanda, Australia dan juga
negara-negara di Timur Tengah. “Kami pernah dipesan Sultan Brunei
Darussalam dan juga orang Malaysia untuk membuat keris,” ungkap Djiwo
Dihardjo, salah satu empu keris .
Selain orang-orang mancanegara, Djiwo juga mengaku sering dipesan untuk
membuat keris oleh para pejabat Indonesia. Di antaranya adalah seorang
Gubernur Bali pada tahun 1972. Gubernur itu membayar sebuah keris yang
dibuatnya dengan harga Rp 65 juta. “Sebuah jumlah yang luar biasa,”
tutur Djiwo, bapak 4 anak ini. Kini, lanjut Djiwo, dirinya tengah
dipesan membuat 2 buah keris dari seorang pengusaha dari Toraja dan akan
dibayar Rp. 7,5 juta. Menurut Djiwo, dari pekerjaannya yang hanya
mengandalkan membuat keris itu dipandang cukup bahagia dan bisa
membesarkan keempat anaknya, di samping istrinya.

Ia lantas menceriterakan, pada tahun 1972 omzetnya bisa mencapai puluhan
juta. Kalau dihitung dengan biaya transpor, juga bahan membuat keris
dan lain sebagainya, maka yang diterima bersih, satu bulan hanya didapat
Rp. 3 juta. “Tapi sekarang cukuplah untuk hidup,” tambahnya. Djiwo
mengaku setiap tahunnya rata-rata bisa membuat 6–10 keris pusaka.
Omzetnya untuk sekian banyak itu sekitar puluhan juta. Tapi bersihnya
dia menerima sekitar Rp. 2 juta per bulan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Hartinah yang mengkhususkan hanya
membuat werangka keris. Dalam sehari, dirinya mampu membuat sampai 2
kodi. Meski tak laku semuanya, namun dirinya bisa mendapat nafkah yang
cukup lumayan. “Dalam sehari saya bisa mengantongi keuntungan Rp 25.000
sampai Rp 50.000,” ungkapnya.
Ketenaran Banyu Sumurup sebagai kampung pembuat keris tak luput dari
jasa besar Empu Supomo. Konon, alkisah, ketika itu di kerajaan Majapahit
terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Soreng Loyo.
Ontran-ontran ini membuat kalang kabut rakyat dan banyak yang melarikan
diri ke luar Majapahit untuk menyelamatkan diri.
Empu Supomo, salah satu empu yang mumpuni membuat keris di kerajaan
Majapahit, bersama dengan keluarganya juga mencoba menyelamatkan diri.
Ia lari ke daerah Imogiri, Yogya. Tepatnya di desa Banyu Sumurup itu. Di
tempat yang baru inilah Empu Supomo merasa tenteram dengan
lingkungannya.
Di desa Banyu Sumurup inilah pula, Empu Supomo lantas meneruskan
keahliannya untuk tetap membuat keris pusaka yang diyakini sangat
bertuah yang kemudian keahliannya itu diturunkan secara turun-menurun.
Dari Empu Supomo, keahlian membuat keris ini diturunkan kepada Mbah
Tomorejo, menurun lagi ke Iro Menggolo–Dipomenggolo–Haryo Menggolo–Kiai
Cokro Harjo–Sosro Menggolo dan generasi yang sekarang ini Djiwo
Dihardjo. “Tapi sampai saat ini keahlian ini belum bisa saya turunkan ke
anak saya. Memang yang paling berbakat adalah anak saya yang pertama,”
ujar Djiwo Diharjo.
Keris Pusaka
Tak sembarangan membuat sebuah keris yang bertuah. Menurut penuturan
Djiwo, proses pembuatannya harus mengetahui tanggal lahir si pemesan dan
akan digunakan untuk apa. Setelah diadakan perhitungan dengan cara
penanggalan Jawa, baru bisa ditentukan kapan (hari dan jam) keris itu
bisa dibuat.
Selama dalam sepasar (5 hari) keris hanya dibuat dalam waktu dua jam
sesuai dengan perhitungan. “Sewaktu membuat keris pun kita harus puasa.
Selain tidak makan, juga tidak boleh bicara saat membuatnya. Kalau
sampai itu dilanggar keampuhan keris itu akan punah.
Hasilnya seperti keris suvenir,” ungkap Jiwo. Harga keris ditentukan
beberapa hal. Pertama dari bahan, seperti berlapis emas, gagang keris
apakah dari gading atau apa, dilihat dari kesaktian keris–semakin sakti
keris proses pembuatannya semakin lama, karena perlu menyelenggarakan
acara ritual atau sesajen.
Untuk satu keris yang benar-benar berisi, proses pembuatannya bisa
mencapai satu tahun. Biasanya rata-rata hanya 6 bulan. Yang agaknya
menjadi kendala yang cukup berarti dalam membuat keris pusaka, menurut
Djiwo, saat ini pamor (batu meteor) bahan pembuat keris sudah langka dan
bahkan dibilang punah.
Akibatnya, untuk membuat keris alusan dengan cara sistem kanibal Keris
lama dicopoti dan diambil untuk membuat keris yang baru. Pada mulanya,
penduduk di Banyu Sumurup ini hanya membuat keris yang bertuah. Namun
seiring perkembangan zaman, pada tahun 1972, keris mulai diproduksi
secara massal untuk digunakan sebagai suvenir.
Djiwo pun juga ikut-ikutan membuat keris suvenir. Maka dirinya lantas
mendidik 15 orang pemuda kampung untuk membuat keris. Tapi, lanjut
Djiwo, agar tidak terjadi perebutan lahan, mereka lantas dibagi tiga
kelompok. Ada yang khusus membuat keris, ada yang membuat warongko saja
dan ada pula yang khusus ukiran. “Tujuan saya agar tidak terjadi
perebutan lahan,” kata Djiwo.
Untuk memasarkan keris ini, Djiwo mengaku sangat dibantu oleh Pemprov
DIY. Di tahun 1978, misalnya, Djiwo melakukan pemeran keliling ke
Jakarta, Bandung, Bali dan Semarang. Keris Banyusumurup pun semakin
dikenal.
Bahkan pada tahun 1985, sempat pula mengadakan pameran keris di
Nedherland, tahun 1989 di Australia. Tak hanya itu, warga Banyu Sumurup
juga membuka beberapa counter penjualan keris seperti di Blok M, Ancol,
Bali, Bandung dan kota-kota lainnya.
“Kini hampir semua kebutuhan keris yang ada pesannya ya di Banyu Sumurup
ini,” tutur Djiwo. Namun kini Djiwo tak lagi ikut-ikutan membuat keris
suvenir. Ia kini mengkhususkan diri hanya membuat keris pusaka. ”Banyak
saingannya,” tuturnya pendek.