Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan terus mencatat seluruh warisan
kebudayaan yang ada di Nusantara. Catatan itu untuk mengkomparasikan
warisan budaya yang ada supaya mendapatkan pengakuan dari UNESCO.
Permainan
tradisional sekecil apapun akan kita catat dan administrasikan dalam
buku besar. Ini bukan pekerjaan yang ringan, tetapi harus terus
dikerjakan, ujar Mendikbud, Mohammad Nuh, di Yogyakarta, Selasa
(18/9/2012).
Kemendikbud sudah membentuk tim pencatat, meski
pencatatan warisan budaya nusantara ini tidak akan selesai dalam kurun
waktu lima tahun.
Pencatatan warisan budaya itu membutuhkan waktu
yang cukup lama, karena yang didata bukan hanya jawa, tetapi seluruh
Indonesia. Apalagi, menurut Nuh, bahasa yang ada di Indonesia sendiri
lebih dari 600-an.
Mulai dari permainan-permainan tradisional
itu kan banyak yang hilang. Salah satu contoh, Jarang Kepang atau bahasa
Jawa Tengah-nya Kuda Lumping. Permainan itu kan kita sudah mengetahui
semua, tetapi saat ditanya mulai kapan adanya Jarang Kepang? Abad Ke
berapa? Nggak ono sing eroh, ujar Nuh dengan khas logat Jawa.
Dia
menambahkan, beberapa pertanyaan seperti filosofi Jarang Kepang? Kapan
Jaran Kepang diperagakan? kembali lagi Nuh mempertegas tidak ada yang
mengetahui secara detail.
Dari penelusuran itu, tugas tim
pencatat dari Kemendikbud harus mengali lebih dalam untuk mengurai
benang kusut yang selama ini ada di masyarakat.
Kenapa kok pakai
kepang atau gedhek. Apa nilainya? kenapa kok setelah melakukan tarian
itu muncul semacam magis, kemudian pemainnya makan beling. Ono lombok
(cabe) kok maem beling. Itu lebih menarik lagi kalau lombok campur
beling jadi rujak beling, kelakarnya sambil tertawa.
Apa makna
nilai yang ada dalam jarang kepang itu menjadi tugas kita melestarikan,
membukukan, agar tidak punah ditelan zaman. Lembaga yang melakukan
pencatatan dari departenmen kebudayaan, jelasnya.
Nuh kembali
mengingatkan permainan bentik, yang mengunakan batang pandan sebagai
pemukul dan batang kecil untuk dipukul. Kemudian, permainan dakon,
permainan grobak sodor, dan masih banyak permainan tradisional lainnya
yang kini sudah jarang dimainkan oleh anak-anak, remaja, maupun orang
tua karena tidak memiliki nilai ekonimis bagi pemainnya.
Lah
kalau permainan-permainan ini tidak kita angkat kembali, kita khawatir
permainan-permainan tradisional ini akan hilang. Itu semua kekayaan
kita, itu semua warisan-warisan budaya dari pendahulu kita, jelasnya.
Permainan Tradisional Kuda Lumping yang Tertelan Zaman
Written By Ujie Caprone on Selasa, 23 Oktober 2012 | 12:37
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar